44 Halaman yang Tak Terbaca
Hingga malam, koran gratis itu tetap terlipat rapi tanpa jejak pernah dibuka. Koran pagi 44 halaman. Seputar Indonesia. Kalau kertasnya dilipat-jilid jadi buku lumayan tebal. Dan mungkin tetap tak terbaca.
Karena gratis, mendapatkan padahal tak butuh, atau karena memang tak layak baca? Kebetulan koran selalu ditaruh di meja berisi dua orang yang seharian online. Kompas di situ pun sering tetap terlipat rapi.
Koran kita butuhkan ketika tak ada koneksi internet.
Entah paman rasa atau tidak, tapi saya seperti tersudutkan. Membaca koran enggan, baca internet OK, tapi sayangnya baca buku kertas enggan, baca ebook juga enggan, tapi baca timeline twitter serta blog mau banget… :)
DV recently posted..Tentang Kembali dan saudara-saudaranya yang tak pernah kembali
DV: Tersudutkan gimana? Lha kan memang pengertian “informasi” bahkan “berita” sudah bergeser? Dulu proksimitas psikologis dalam berita kan cuma “menyangkut diri saya oleh orang yang tak saya kenal melalui info searah dari editor”. Lalu proksimitas geografis kan cuma “menyangkut kota saya, kecamatan saya, kelurahan saya.”
Media sosial dengan dukungan mobile mengubah semuanya. Informasi adalah “apa yang menyangkut saya dan teman saya”. Dan berita adalah “kabar dari temannya teman yang diteruskan oleh teman saya”, serta “kabar dari media yang dibaca dan diteruskan oleh teman saya”.
Jadi inget mau nulis ini tapi ketunda… :D
untunglah koran saya masih dibaca banyak orang di Yogya dan kota-kota lain, dengan oplah sekitar 50.0000 :)
Jun: tiras (dan semoga aid circulation) 50.000 itu masih ajaib. Dan kita pun mencari-cari formula: lokalitas macam apa yang dibutuhkan oleh pasar. :) Mungkin kini saatnya pers lokal betul-betul berjaya karena lokalnya — tak soal apakah si koran bagian dari jejaring nasional. Maksud saya lokalits bukan sekadar nama koran lalu berita lain dipasok dari newsroom di kantor pusat :D
Di Amrik dulu ketika USA Today muncul, kalangan periklanan yang bingung. Ini koran nasional pertama Amrik, lantas iklan apa yang cocok? Sebelumnya mereka merencanakan pemasangan iklan cetak sampai ke tingkat county paper, karena dua abad lebih yang kuat memang koran lokal/regional. :)
kalau saya lebih suka baca di kertas daripada di monitor
kurniasepta recently posted..Totto Chan Gadis Cilik di Jendela
Kurnia: soal kebiasaan. begitu? :)
saya hampir selalu baca koran tiap hari, karena saya makan 3 kali sehari sambil baca koran
mawi wijna recently posted..Curug Terindah di Gedangsari
Mawi: tiga kali makan tiga kali baca? Hebat :)
buat saya baca koran itu rasanya lain, mungkin karena isinya A-Z, dibanding baca berita di internet yang cenderung terbatas karena kita (baca :saya) hanya membuka halaman dengan topik tertentu, rasanya ndak mungkin kita mau buka detik, trus lanjut detiksport, detiksurabaya, detikbandung, dan seterusnya.
tapi ya kadang kejadian, beli koran waktu di prapatan karena sepertinya headline-nya menarik, sampe di kantor ndak kebaca, waktu pulang sudah lupa, ketinggalan.
stein recently posted..Menjahit SPT Tahunan
Stein: kita serupa :D Terutama soal gak kebaca itu :D
Di rumah saya hanya langganan koran tiga hari: Jumat, Sabtu, Minggu. Hari2 lain cukup TV dan internet :D
Mpokb: itu selektif. Seperlunya, secukupnya. Bagus :)
Kok aku tak jarang juga teteup nyentuh kertas koran n juga membacanya yaa…
Ataukah karena aku belum mampu memaksimalkan tehnologi bernama Internet ini Paman…? #nanyaserius
Maztrie recently posted..Nyawah dan pacul
Maztrie: Ini soal kebiasaan dan pembacaan. Untuk orang yang dibesarkan oleh media kertas, kadang sulit untuk meninggalkannya karena ada cara baca yang berbeda. Sebesar-besarnya LCD tetap tak seperti koran, kecuali nanti ada media semacam tablet berupa kertas, bisa dilipat bahkan diremas :D