Dering Telepon Landline
Suatu hari fixed-line kantor berdering berkali-kali. Mirip kantor betulan! Binis adalah krang-kring. Seperti dalam film lama. Tetapi kini orang kantoran makin sering berponsel. Langsung ke tujuan. Tarif lebih murah.
Di rumah pun telepon kabel tak seaktif dulu. Selain untuk memesan gas dan air galonan, telepon untuk interlokal. Mungkin semakin jarang keluarga yang tagihan teleponnya membengkak karena dipakai oleh anak-anak. Ponsel, media sosial, internet messenger, dan Skype telah menjawab kebutuhan.
Th’91, untuk mendapat saluran telepon, harus antri mendaftar di Stadion Lebak Bulus. Saluran macam itu, disebut POTS (plain ordinary telephone system) dan berdering ketika ada yang memanggil. Sampai sekarang masih dipakai istilah ring tone dan ring-back tone (RBT) padahal telepon seluler sudah tidak berdering lagi. Seperti perangko, POTS kini jadi barang antik dan untuk ‘klangenan’ saja.
Wak Agen: Pakai diundi gak? Dulu malah kayak untung-untungan. Penambahan jaringan PSTN itu meluas setelah Soesilo Sudarman menjadi Menteri Parpostel. Penyebabnya di sebuah kadatel (Jateng?) dia melihat timbunan kabel dan sebangsanya tapi perluasan jaringan tak kunjung berlangsung. Kalau sekarang Telkom langsung menawarkan Flexi kalau ada orang minta sambungan :(
Dahulu sekali, waktu masih ngantor di Jakarta, sedangkan istri tinggal di Solo, tiap hari sekitar pukul 05.00 WIB saya ke warnet dekat mes kantor di Palmerah. Demi berhallo-hallo lama, tetapi murah, dengan istri. Sekarang cukup pakai ilmu TM-nya sebuah operator ponsel….
Jun: Lho bukannya di perusahaan sana itu ada “auto bill” untuk penggunaan telepon pribadi dengan PIN? Yang saya tak hirau, padahal menerima lembaran tagihan, adalah pemberlakuan tarif interlokal berdasarkan jam bicara. Sewaktu interlokal dan panggilan ke ponsel masih melalui operator, saban menerima amplop berisi struk gaji pasti ada lembar pemakaian telepon.
Waktu saya jadi lurah dan selalu menerima laporan keuangan maupun tagihan, yang saya periksa adalah angka-angka ajaib yang melebihi kewajaran. Biasanya penggunaan telepon untuk pribadi terutama ke nomor luar kota dan… ponsel entah wilayah mana. :D
Kala itu kantor saya tidak ada sedia “auto bill”, Paman . Mungkin karena statusnya hanya biro, hehehehehe. Biro Jakarta, sering disingkat Bijak.
Jun: Bijak? Jahaha. Kalau koresponden Jakarta “Kojak”
wah kalau sekarang telephone di rumah dipakai buat verifikasi credit saja,… memastikan bahwa kita rutin membayarnya dan benar benar tinggal disana.
Applausr: Betul! Kredit dan asuransi :)
Mau dicopot, takut perlu. Padahal yg paling sering nelpon ke rumah cuma tetangga, petugas kartu kredit dan…pemasar Speedy :p
Mpokb: Tetangga! Ya betul itu. Sebelum kirim makanan mereka nelepon dulu, untuk memastikan ada orang di rumah :D
Pemasar Speedy? Bener banget, sampai saya bosen :D
Semacam journey ya kalau kulihat, Man… karena konon empat puluh tahunan silam, landline adalah solusi ktimbang kentongan juga… Sekarang bahkan ada temanku yg bilang “Dont call me land line, i would not take it” :)
DV recently posted..Not a love story
DV: Mobile memang mengalahkan banyak hal :D
Di rumah juga telepon cuma jadi pengangguran yang melongo melihat kabelnya dipakai ke modem. Bisa untuk video calling lagi dengan istri. Nggak kebayang kalau mesti ngandelin telepon kayak dulu: bengkak tagihan minta ampun :lol:
Alex: Atau harus nelepon di atas pukul sebelas malam supaya dapat diskon :D